Kamis, 25 September 2014

ETIKA BISNIS

BAB 1
TEORITIKA ETIKA BISNIS 
1.      Teori Pengertian Etika
   a.     Norma Umum
            Norma umum, yaitu aturan-aturan yang berlaku secara umum dalam kehidupan masyarakat, sebagai pedoman dan pengendali tingkah laku dalam pergaulan
b.      Teori Etika Deontologi
            Etika deontologi adalah sebuah istilah yang berasal dari kata Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban dan ‘logos’ berarti ilmu atau teori. Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai keburukan, deontologi menjawab, ‘karena perbuatan pertama menjadi kewajiban kita dan karena perbuatan kedua dilarang’. Sejalan dengan itu, menurut etika deontologi, suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Karena bagi etika deontology yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.
c.          Teori Etika Teleologi
            Adalah Mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia .

2.      Bisnis Sebuah Profesi Etis
a.         Etika Terapan
            Terapan etika adalah, dalam kata-kata Brenda Almond, pendiri Society for Filsafat Terapan, "pemeriksaan filosofis, dari sudut pandang moral, isu-isu tertentu dalam kehidupan pribadi dan publik yang penting dari penilaian moral". Dengan demikian istilah yang digunakan untuk menggambarkan upaya untuk menggunakan metode filsafat untuk mengidentifikasi saja benar secara moral tindakan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Terapan etika dibedakan dari etika normatif, yang menyangkut apa yang orang harus percaya untuk menjadi benar dan salah, dan dari etika , yang menyangkut sifat pernyataan moral.
b.         Etika Profesi
            Keiser dalam (Suhrawardi Lubis, 1994: 6-7), etika profesi adalah sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan pelayanan profesional terhadap masyarakat dengan ketertiban penuh dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa kewajiban terhadap masyarakat. Sedang Magnis Suseno (1991: 70) membedakan profesi sebagai profesi pada umumnya dan profesi luhur. Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian khusus.
c.          Menuju bisnis sebagai profesi luhur
            Sesungguhnya bisnis bukanlah merupakan profesi, kalau bisnis dianggap sebagai pekerjaan kotor, kedati kata profesi, profesional dan profesionalisme sering begitu diobral dalam kaitan dengan kegiatan bisnis. Namun dipihak lain tidak dapat disangkal bahwa ada banyak orang bisnis dan juga perusahaan yang sangat menghayati pekerjaan dan kegiatan bisnisnya sebagai sebuah profesi. Mereka tidak hanya mempunyai keahlian dan ketrampilan yang tinggi tapi punya komitmen moral yang mendalam. Karena itu, bukan tidak mungkin bahwa bisnis pun dapat menjadi sebuah profesi dalam pengertian sebenar-benarnya bahkan menjadi sebuah profesi luhur.
SUMBER :


Rabu, 14 Mei 2014

Bahasa indonesia 2

Rahasia DiBalik Catatan

Ada yang masih tersimpan rapi dalam hatiku catatan panjang berisi kenangan tentangmu kukira kan abadi seperti cahaya mentari.
Tulisan itu kutemukan dalam selipan sebuah buku kecil berhiasan gambar “ hello kitty “ di jok belkang taksi. Dari bentuk tulisannya aku menduga, pemiliknya pasti cewek !  Tapi, tak ada nama dan alamatnya, Cuma berisi catatan pendek . Tanpa tanggal dan sepertinya tak pernah selesai .
Dalam lembar pertama, yang terbaca Cuma ungkapan sebuah keputusan yang sepertinya sangat berat dilakukan . aku harus mengakhirinya sebelum luka kian menganga . Hanya itu, Aku sempat menduga –duga apa maksudnya? Tapi, sungguh sulit kumengerti. Kesimpulanku, pemilik buku kecil inni pasti dari Fakultas Sastra ! Lembar kedua cuma berisi satu kata perih !!!
Tentu saja , aku semakin tertarik membacanya dan mecoba menganalisa seperti apa sosok penulisnya. Jiwanya pasti lembut . Rambutnya… pasti panjang tergerai. Hidungnya bengir , ada lesung di pipinya yang halus. Bola matanya jernih. Senyumnya menyejukan dan …. Aah, aku jadi asyik mengkhayalkannya.
Konyol rasanya mengkhayal terlalu jauh begini !Tapi, selalu saja setiap melihat buku kecil itu dan membaca isinya ,aku hanyut dalam khayalan. Terkadang, aku membayangkan rambutnya ikal dipotong pendek tak sampai sebahu, gampang tersinggung, tapi tak berani berterus terang. Sebab , pada halaman yang selanjutnya, dia menulis kalimat penuh rasa marah ! harus ada batas, harus ada yang terbalas mari kita nikmati luka ini bersama agar kau tahu rasa perihnya
Pemilik buku kecil ini pasti sedang menghadapi masalah. Tapi, apa masalah yang di hadapinya? Soal cowoknya yang berkhianat? Soal keluarga yang berantakan karena kurang perhatian? Atau soal … sial ! aku jadi terlibat dalam ungkapan yang ditulisnya dalam buku kecil itu. Bukan hanya itu, aku pun punya kecemasan yang sukar untuk dijabarkan dengan kata-kata, ketika membaca lembar selanjutnya. Barangkali Cuma kematian yang bisa menjawab sebab, segalanya sudah terlambat kau yang memulainya , mungkin itu akan membuatmu bahagia.
Bayangkan ! Dia mulai menyinggung tentang kematian. Betapa putus asanya.Betapa berat beban yang disandangnya. Kalau saja aku tahu nama dan alamat pemiliknya, pasti aku akan segera menemui nya dan membantu menemukan jalan keluar dari persoalan yang di hadapinya. Tapi, sayang… dia tak meninggalkan gambaran yang jelas tentang dirinya. Bagaimana mungkin aku bisa menemukannya?
Aku yakin, saat ini dia butuh seseorang teman bicara dan berdiskusi. Aku juga yakin, aku akan mampu menghiburnya. Minimal menjadi pendengar yang baik bagi semua keluhannya. Yang pasti, catatan dibuku kecil tu menimbulkan kegelisahan dalam diriku. Sebab, semakin kubuka lembaran berikutnya, terasa semakin melibatkan perasaanku. Masih perlukah kata maaf? Masih mungkinkah aku berharap? Dan aku limbung di persimpangan.
Aku membacanya tak cukup sekali. Berusaha mencari artinya, tapi sia-sia. Aku ternyata tak pandai mencerna ungkapan – ungkapan yang mirip puisi itu.  Aku tak pandai dalam hal ini. Aku pun pasti tak bisa menyusun kalimat seperti yang dia ungkapkan, jadi… betapa istimewanya dia!
Andai aku punya cewe seperti dia, sungguh akan banyak kutemukan suasana romantic. Melangkah tepi pantai, menanti datangnya matahari di puncak gunung . menyusuri jalan sambil bergandengan tangan. Ah ! kenapa aku jadi senang berandai andai pada sosok yang belum pernah kutemukan? Namun, aku tak bisa melupakan begitu saja kalimat-kalimat yang dia tuliskan. Banyak yang berkesan dan memaksaku untuk terus membuka halaman – halaman berikunya akankah aku menemukan jalan? Akankah aku kembali pulang? Sementara, luka ini masih meninggalkan perih tak berperi
Aku termangu dengan tangan msih menggenggam   buku kecil itu. Aku butuh seseorang untuk memecahkan misteri ini. Tapi, siapa yang paling tepat aku ajak bertukar pikiran? Rasanya tak ada temanku yang gemar menulis puisi. Tapi ..  bukankah Sakti penggemar buku-buku sastra? Ya, aku ingat sekarang. Sakti orang yang paling tepat untuk kuhubungi. Tanpa berkir dua kali, aku segera bergegas menuju meja telpon, menghubunginya. Kebetulan sakti sendiri yang mengangkatnya.
ada apa ini? Tumben telpon malem? Tanya Sakti.
Elo bisa dateng kesini nggak? Sekarang juga! Ada masalah nih! Gue butuh elo.
 Oke oke gue berangkat sekarang juga.
Gue tunggu ya? Makasih banget.
Tak sabar  rasanya menunggu kedatangan Sakti. Sekitar dua puluh menit kemudian, terdengar suara motor sakti berhenti tepat di depan rumahku. Aku segera menyambut dan langsung mengajaknya masuk ke kamarku. Sakti tampak heran. Tapi, aku tak peduli. Aku segera menyodorkan buku kecil itu. Elo baca dulu setelah itu baru kita bicara kataku sambil menyodorkan buku kecil itu tangannya.
Sakti segera membukanya. Keningnya tampak berkerut. Aku berbaring mengamati keseriusan sakti ketika membaca lembar demi lembar tulisan dibuku itu.
Dimana elo nemuin buku ini? Tanya sakti dengan wajah serius . Ditaksi jawabku. Trus, apa yang bikin elo merasa ini begitu penting samapai telpon segala? Tanya Sakti , gue penasaran dan sulit ngerti, apa masalah yang dihadapinya? Tanyaku binggung.
Cuma itu? Mata sakti penuh selidik, aku menggangguk.  Apa hubungan nya dengan elo? Kenal juga nggak dengan dia, kok pusing – pusing mikirin? Tanya Sakti
Gue sendiri heran kenapa perasaan gue jadi terganggu sejak ngebaca tulisannya Ungkapku. Gue pengen banget ketemu sama pemiliknya. Apa yang harus gue lakuin supaya bisa ketemu sama dia? Aku meminta saran Sakti
Alaaa.. gitu aja pusing, bikin aja surat pembaca dikoran, terus bilang elo nemuin buku ini ditaksi. Siapa kata Sakti ringan. Masuk akal juga. Kenapa aku tak berpikir sampai kesitu ya? Ide yang baik sambutku spontan. Thanks atas saranya
Udah ya? Gue cabut dulu. Ada yang harus gue selesaiin diruma! Sakti langsung keluar dari kamarku dan langsung pulang. Aku segera menulis surat pembaca pada lima media sekaligus. Setelah itu, aku baru merasa lega. Tinggal menunggu tanggapan dari pemilik buku misterius itu. Hamper seminggu, aku menanti si pemilik buku sejak surat yang kukirim ke media di muat. Tapi , tak ada tanggapan. Aku jadi rajin duduk diteras menanti datangnya tukang pos atau seseorang yang aku yakin cewek berambut panjang dengan lesung di pipinya.
Hari ini, seperti biasa sepulang dari sekolah, aku duduk-duduk di teras, menunggu membosankan memang, tapi aku tetap penasaran dan yakin dia akan datang. Entah kapan saat aku melonjorkan kaki, mataku melihat seseorang berdiri di muka pintu pagar. Seseprang cowok berkulit hitam, rambutnya awut-awutan tak terawatt dengan kaos yang warnanya memudar. Dia menyapa permisi ….
Mau tak mau, aku menghampirinya . Cari siapa?  Tanyaku dengan tatapan menyelidik. Dia  memakai anting di telinga kirinya, memakai kalung rantai panjang dan ada tato di tanganya. Saya ingin bertemu dengan indraa….  Katanya dengan suara berat.
Anda siapa? Aku memasang ancang –ancang siap bila menghadapi keributan.   Saya pemilik buku yang ditemukan oleh seseorang yang bernama indra dan alamatnya disini, apakah saya bisa ketemu dengan indra?

Aku terpengarah. Tak menyangka! Lenyap sudah khayalanku tentang cewek berambut panjang dengan lesung dipipinya. Betapa jauh beda antara yang tertulis dan yang menuliskannya!

Minggu, 13 April 2014

Bahasa Indonesia 2

BAB I               Latar belakang
            Salah satu contoh usaha kecil menengah adalah salon kecantikan menurut Kusumadewi (2002) adalah sarana pelayanan umum untuk  kesehatan rambut, kulit dan badan dengan perawatan kosmetik secara panduan yang modern maupun tradisional tanpa tindakan operasi (bedah). Di era sekarang masalah penampilan merupakan hal yang mutlak diperlukan setiap mengikuti  tren make–up maupun mengikuti model rambut yang sedang populer. Hal tersebut membuat  keberadaan usaha yang menawarkan jasa kecantikan semakin diperlukan. Tidak heran jika kebanyakan bisnis salon dimulai dari modal yang sederhana.      
            Cantik merupakan dambaan setiap wanita namun dengan pikiran yang terbuka, kecantikan memiliki makna yang begitu luas. Kecantikan tidak hanya dilihat dari fisik. Kecantikan bisa pula dilihat dari rasa percaya diri, keunikan pribadi, dan tidak terpaku pada dimensi visual yang dapat dilihat mata. Kepribadian yang menarik bisa membuat seorang wanita terlihat cantik dan menarik. Kecantikan bisa terpancar dari karakter, perilaku dan pengetahuan. penting adalah suatu perencanaan bisnis yang matang.
            Agar bisa mencapai tingkat perkembangan dan keuntungan usaha yang optimal, seseorang hendaknya mengkaji lebih dahulu bidang usaha yang akan dimasukinya melalui sebuah studi kelayakan bisnis.. Dari pengkajian awal ini pula resiko kegagalan bisa diantisipasi (Umar,2007 dalam studi kelayakan bisnis).
            Salon Santi adalah salon yg melayani bidang tata rias dan wedding, selain itu santi salon juga menyediakan facial, potong rambut, creambath, hair spa, body spa, lulur, menipedi
            Berdasarkan uraian diatas, penulis membuat penulisan ilmiah yang berjudul “ STUDI KELAYAKAN BISNIS USAHA JASA SANTI SALON “

1.1 Tujuan penelitian
            Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui apakah investasi yang akan dilakukan dapat layak untuk direalisasikan atau tidak layak berdasarkan metode PP, NPV, PI, dan IRR

1.2 Pertanyaan penelitian
            Seperti yang diuraikan diatas bahwa penulis akan memamparkan secara lebih jelas masalah yang akan dibahas yaitu bagaimana kelayakan usaha  SANTI SALON dilaksanakan.

1.3 Manfaat penelitian
            Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat :
  1. Bagi Akademik
            Sebagai bahan referensi untuk penelitian di bidang investasi dan sebagai bahan untuk     menambah khasanah pustaka di bidang studi kelayakan bisnis berdasarkan penerapan            yang ada dalam kenyataan
  1. Bagi Praktisi
            Sebagai rekomendasi kebijakan suatu usaha untuk memperbaiki dan menganalisis lebih lanjut mengenai ide bisnisnya
  1. Bagi Peneliti
            Membangun pemikiran usaha untuk memperhitungkan sedemikian rupa dalam   menjalankan bisnis
Bab II               Teori
            Studi kelayakan yang juga sering disebut dengan feasibility study merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan , apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan utama / proyek yang direncanakan. Pengertian layak dalam penilaian studi kelayakan adalah kemungkinan dari gagasn utama / proyek yang akan dilaksanakan memberikan manfaat (benefit), baik dalam arti financial maupun dalam arti sosial benefit ( Ibrahim,2009 ).

BAB III                         Pembahasan             

3.1 Metode yang digunakan
1.      Metode Payback Period
2.      Metode Net Present Value
3.      Metode Profitability Index
4.      Metode Internal Rate of Return              
3.2 Teknik pengumpulan data
1.      Studi pustaka yaitu mengumpulkan data-data secara teoritis yang bersumber dari berbagai literature.
2.      Penelitian lapangan yaitu dengan cara :
a.      Interview, yaitu mengadakan tanya jawab dengan pihak perusahaan.
b.      Observasi yaitu mengadakan penelitian dan peninjauan langsung terhadap kegiatan perusahaan

3.3 Uji validitas  data
            3.3.1 Objek Penelitian
            Objek penelitian adalah pengembangan usaha yang akan dilakukan pada SANTI SALON yang beralamatkan Taman Kebalen blok P5 No 18 Bekasi Utara
            3.3.2 Data yang digunakan
            Data yang digunakan penulis dalam penelitian ilmiah ini adalah data primer yaitu Laporan aliran kas SANTI SALON
            3.3.3  Teknik pengumpulan data
  1. Studi pustaka yaitu mengumpulkan data – data secara teoritis yang bersumber dari berbagai literature.
  2. Penelitian lapangan yaitu dengan cara :
a)      Interview yaitu mengadakan tanya jawab dengan pihak perusahaan
b)      Observasi yaitu mengadakan penelitian dan peninjauan langsung terhadap kegiatan perusahaan
            3.3.4 Alat analisis
1.            Metode Payback Period
-          Jika procced yang dihasilkan tiap tahun yang sama :
                        PP = Jumlah Investasi X 12 Bulan
                                    Proceed
                        Dimana proceed = EAT + Depresiasi
-          Jika proceed yang dihasilkan tiap tahun yang berbeda :
            HP                                =  xxx
            NS                                = (xxx)
            Investasi                      =  xxx
            Proceed tahun 1          = (xxx)
            Sisa investasi  =   xxx
            Proceed tahun 2          = (xxx)
            Sisa investasi  =  xxx
Dan seterusnya sampai investasi  tidak dapat dikurangi dengan proceed selanjutnya, lalu :
                        Sisa investasi                          X 12 Bulan
            Proceed tahun sebelumnya

Jika payback period > umur ekonomis , investasi ditolak
Jika payback period < umur ekonomis,  investasi diterima

2.      Metode Net Present Value
                        NPV =  PV.Proceed – PV. Outlays

            Dimana PV proceed  = Proceed x tingkat suku bunga
            Jika NPV (+) Investasi diterima
            Jika NPV (-) Investasi ditolak

3.      Metode Profitability Index


                        PI =      PV.Proceed
                                    PV.Outlays

            Jika PI > I , Investasi diterima
            Jika PI < I , investasi ditolak

4.      Metode Internal Rate of Return

                        IRR = i              NPV1                          X ( i2 – i1 )
                                                NPV1 – NPV2
            i1                    =  Tingkat bunga ke - 1 NPV1 = NPV Positif
            i2                    = Tingkat bunga ke – 2 NPV2 = NPV Negatif
            Jika IRR > Tingkat bunga, investasi diterima
            Jika IRR < Tingkat bunga, investasi ditolak                


Selasa, 25 Maret 2014

Bahasia Indonesia 2

1.       Berfikir Deduktif
a.       Jelaskan Defini Silogisme Kategorial, Hipotesis, dan alternative serta berikan contoh nya?
Ø  Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah
(middle term). 
Contohnya : 
               Semua makhluk hidup membutuhkan makan
               Hewan adalah makhluk hidup
               Hewan membutuhkan makan
Ø  Silogisme Hipotesis adalah jenis silogisme yang terdiri atas premis mayor yang bersifat hipotesis ,dan premis minornya bersifat katagorial . Silogisme Hipotesis
ini dapat dibedakan menjadi 4 macam , yaiu :
-          Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh :
               Jika hari ini cerah , saya akan ke rumah kakek ( premis mayor) Hari ini                     cerah ( premis minor ) Maka saya akan kerumah kakek   (kesimpulan )
-          Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian konsekuen
Contoh :
               Jika hutan banyak yang gundul , maka akan terjadi global warming                            (premis mayor ) Sekarang terjadi global warming ( premis minor
               Maka hutan banyak yang gundul ( kesimpulan )
-          Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari antecedent
Contoh :
               Jika pembuatan karya tulis ilmiah belum di persiapkan dari sekarang,                         maka hasil tidak akan maksimal pembuatan karya ilmiah telah di                               persiapkan maka hasil akan maksimal
-          Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari konsekuen
Contoh :
          Bila presiden Mubarak tidak turun , Para demonstran akan turun ke                         jalan Para demonstran akan turun ke jalan Jadi presiden Mubarak tidak                    turun.

  
Ø  Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
               Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
               Nenek Sumi berada di Bandung.
               Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.

b.      Jelaskan Definisi Entimen dan berikan contoh nya?
Ø  Entimen adalah Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.
Contoh entimen:
               Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam
               sayembara itu.Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu 
               Anda berhak menerima hadiahnya.

2.      Berfikir Induktif
a.       Jelaskan Definisi Generalisasi serta sebutkan 2 jenis generalisasi?
Ø  Generalisasi adalah proses penalar yang bertolak dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang diamati lalu ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. jadi, generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. di dalam karangan generalisasi perlu ditunjang dengan bukti atau dibuktikan dengan fakta-fakta.
               Jenis Jenis Generalisasi Berdasarkan Bentuknya :
Ø  Loncatan Induktif
               Paragraf Generalisasi yang bentuknya loncatan induktif tetap bertolak dari beberapa fakta namun fakta yang ada belum bisa mencerminkan seluruh fenomena yang terjadi. Tapi fakta itu dianggap mewakili sebuah persoalan. Generalisasi jenis ini sangatlah lemah karena dasar faktanya belum bisa mencerminkan seluruh fenomena.
Ø  Tanpa Loncatan Induktif
               Berbeda dengan Loncatan Induktif yang langsung menarik kesimpulan walaupun fakta yang ada belum bisa mencerminkan fenomena secara keseluruhan, Paragraf Generalisasi yang berbentuk Tanpa Loncatan Induktif 
memberikan cukup banyak fakta dan lengkap sehingga bisa mewakili keseluruhan.
Paragraf ini sangat baik karena kebenarannya dapat dipercaya karena menggunakan fakta yang lengkap.

b.      Jelaskan Definisi Analog?
Ø  Analogi adalah suatu perbandingan yang mencoba membuat suatu gagasan terlihat benar dengan cara membandingkannya dengan gagasan lain yang mempunyai hubungan dengan gagasan yang pertama.

c.       Berikan contoh paragraph sebab akibat, akibat sebab?
Ø  SEBAB KE AKIBAT
-          Setiap pulang sekolah, setelah makan siang Ari selalu menyempatkan diri untuk belajar. Pada malam hari dia juga rutin belajar. Bahkan saat liburan pun dia selalu belajar. Tidak heran jika dia mendapat beasiswa berprestasi dari sekolahnya
-           Sampah di mana-mana kini menjadi pemandangan yang lazim, selokan-selokan yang tergenang air juga tidak mendapat perhatian serius, pohon-pohon dan tanaman hijau lainnya jarang sekali ditemukan. Tidak heran jika setiap musim hujan Jakarta selalu kebanjiran.
Ø   AKIBAT KE SEBAB
-          Desa Nepo mengalami gagal panen. Bagaimana tidak, kemarau tahun ini cukup panjang, di samping itu irigasi di desa ini tidak lancar. Ditambah lagi dengan harga pupuk yang semakin mahal dan kurangnya pengetahuan petani dalam menggarap pertaniannya.
-           Mandala dikeluarkan dari sekolahnya. Dia jarang masuk kelas, tugas tidak pernah dikumpul, saat ulangan pun dia hanya mengumpulkan kertas jawaban kosong, terakhir dia diketahui ikut dalam tauran antar sekolah.
Sumber :


Selasa, 11 Maret 2014

Bahasa Indonesia 2

DEFINISI :        
a.      Penalaran               
Sebuah pemikiran untuk dapat menghasilkan suatu kesimpulan, Ketika seseorang sedang melanarkan sesuatu, maka seseorang tersebut akan mendapat sebuah pemikiran dimana pemikiran tersebut adalah suatu kesimpulan masalah yang sedang dihadap.

b.      Proposisi  
Pernyataan dalam bentuk kalimat yang memiliki arti penuh, serta mempunyai nilai benar atau salah, dan tidak boleh kedua-duanya.


c.       Evidensi   
Semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris. Akan tetapi pengertian evidensi ini sulit untuk ditentukan secara pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak dapat dihindarkan
CARA MENGUJI :
a.      Data         
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autorita

b.      Fakta        
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1. Konsistensi
2. Koherensi


c.       Autoritas
Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan
Sumber                :

Sabtu, 19 Oktober 2013

Perilaku Konsumen

TUGAS KE        :   1 (SATU)
MATKUL          :   PERILAKU KONSUMEN (SOFTSKILL)


“TUPPERWARE”


OLEH :

KELOMPOK 4
   AMALIA NURSYAHFITRI                                10211647
DANU SRI PURNOMO                    11211743
DIFA DASA PUTRI                             12211073
EGGY FACHRY                                    12211335
JESIKA DIANA SAPUTRI                 18211182
PATRY UTAMA                                  15211517
PRASTYO ADI KURNIAWAN         15211560
REINARDUS HENDRAWAN Y.      15211940

KELAS 3EA18


UNIVERSITAS GUNADARMA
KALIMALANG
2013




“TUPPERWARE”


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Tupperware adalah perusahaan  multinasional yang memproduksi dan memasarkan produk plastic berkualitas untuk rumah tangga. Kantor ousatnya berkedudukan di Orland Amerika serikat. Dengan sistem penjualan Direct Selling (penjualan langsung). Kini Tupperware berkembang sangat pesat dan menjangkau pasar lebih dari 100 negara. Di banyak negara, Tupperware selalu menempati ranking atas di antara perusahaan-perusahaan direct selling lainnya.
Berawal dari penemuan material plastic yang telah diperbaharui oleh Earl Tupper tahun 1938 di Amerika yang kemudian dikembangkan pada tahun 1964. Maka lahirlah produk-produk inovatif dengan merk Tupperware yang mempermudah kehidupan ibu-ibu rumah tangga di Amerika. Cara penjualan yang unik diperkenalkan oleh Brownie Wise melalui Home Party yang informative dan menyenangkan.Di berbagai belahan dunia, Home Party Tupperware kini lebih dikenal dengan nama Tupperware Party. Diperkirakan setiap 2,3 detik diselenggarakan Tupperware Party di salah satu dunia.
Tupperware selalu melahirkan produk-produk baru yang inovatif dan berkuaitas, selalu jeli memanfaatkan teknologi dan tanggapan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua produk Tupperware memiliki desain unik dan inovatif dengan warna-warna yang khas, trendi dan menarik. Produk Tupperware menggunakan bahan-bahan kualitas terbaik yang aman bagi kesehatan, ramah lingkungan dan dijamin dengan garansi produk (jika rusak dalam pemakaian normal). Itulah keistimewaan sekaligus komitmen Tupperware : “Memberikan Kepuasan maksimal kepada semua pencinta dan pengguna produk Tupperware dimana pun meraka berada”.
Secara resmi, Tupperware dipasarkan di Indonesia tahun 1991 oleh PT Alif Rose di Jakarta adalah Distributor pertama, dan hingga saat ini sudah ada lebih dari 70 Distributor resmi yang tersebar di berbagai kota besar di seluruh Indonesia.
Dukungan oleh lebih dari 150.000 tenaga penjual independen (Tupper Lady), Produk Tupperware berhasil menembus berbagai kalangan. Berbagai pelatihan dan bimbingan diberikan sebagai bekal untuk menjadi tenaga penjual yang tanggauh.Walaupun terdiri dari berbagai latar belakang ekonomi dan pendidikan, tetapi ada satu persamaannya, yaitu mereka bisa menyisihkan waktu untuk keluarga, sekaligus pencapaian karir dan penghasilan yang sangat memuaskan.
Visi Tupperware Indonesia adalah menjadi “Company of Choice dan Brand of Choice”. Sedangkan misinya adalah “mengubah hidup orang dan keluarganya menjadi lebih baik”

1.2 RUMUSAN MASALAH
Hal inilah yang menarik penulis untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas pelanggan Tupperware karena menurut Griffin (2002: 29) loyalitas mengacu pada perilaku dari unit-unit pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian secara terus menerus terhadap barang atau jasa perusahaan yang dipilih. Loyalitas konsumen memiliki peranan penting dalam sebuah perusahaan, mempertahankan mereka berarti meningkatkan kinerja keuangan dan kinerja kelangsungan hidup perusahaan, hal ini menjadi alasan utama bagi perusahaan untuk menarik dan mempertahankan mereka. Menurut Dharmmesta (1999: 128) faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas adalah faktor harga, pelayanan, kualitas produk dan promosi.

1.3 TUJUAN PEMBAHASAN
Melihat keterkaitan variabel kualitas produk, harga, promosi dan desain sebagai variabel independen, dan loyalitas sebagai variabel dependen. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
a)      Untuk mengetahui pendapat konsumen mengenai kualitas produk, harga, promosi dan desain produk pada Tupperware;
b)      Untuk mengetahui tingkat loyalitas konsumen pada Tupperware;
c)       Untuk membuktikan pengaruh faktor-faktor kualitas produk, harga, promosi dan desain produk terhadap loyalitas konsumen Tupperware.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KAJIAN TEORI
Menurut Kotler dan Amstrong (2000: 9), pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka untuk menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan perlu mendapatkan orientasi pada konsumen dengan menentukan kebutuhan pokok konsumen, kelompok pembelian yang dijadikan sasaran pejualan, menentukan produk dan program pemasaran, mengadakan penelitian pada konsumen dan menentukan harga yang paling sesuai agar produk yang dihasilkan dapat memenuhi selera dan kebutuhan konsumen. Menurut Swastha (2009: 75), definisi loyalitas pelanggan adalah kesetiaan konsumen untuk terus menggunakan produk yang sama dari suatu perusahaan. Loyalitas menggambarkan perilaku yang diharapkan sehubungan dengan produk atau jasa. Loyalitas konsumen akan tinggi apabila suatu produk dinilai mampu memberi kepuasan tertinggi sehingga pelanggan enggan untuk beralih ke merek lain. Adapun ciri-ciri konsumen yang loyal terhadap barang atau jasa menurut Griffin (2002: 31) adalah sebagai berikut :
a)      Melakukan pembelian berulang secara teratur;
b)      Membeli antar lini produk atau jasa;
c)       Mereferensikan kepada orang lain;
d)      Menunjukkan kekebalan dari daya tarik produk sejenis dari pesaing.

        Kualitas produk adalah suatu nilai dari produk atau jasa, dimana nilai produk atau jasa sesuai dengan apa yang diharapkan atau melebihi apa yang diharapkan sehingga produk atau jasa tersebut dapat memenuhi kebutuhan pemakainya (Kotler dan Amstrong, 2000: 70). Kualitas yang baik dari suatu produk akan menghasilkan kepuasan konsumen. Suatu produk dapat dikatakan berkualitas apabila produk tersebut dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan sesuai dengan yang diharapkan atau melebihi apa yang diinginkan konsumen. Menurut David dikutip Vincent Gasperz untuk menentukan kualitas barang dapat melalui 8 dimensi (Umar, 2000: 37) yaitu :
a)      Performance (Kinerja);
b)      Features (Fitur);
c)       Reliability (Keandalan);
d)      Conformance (Kesesuaian);
e)      Durability (Daya tahan);
f)       Service ability (Kemampuan layanan);
g)      Aesthetics (Estetika) ;dan
h)      Fit and finish (Fit dan selesai).

Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya (Swastha, 2009: 241). Harga selain merupakan jalan masuknya uang ke perusahaan, juga berhubungan dengan kualitas produk atau jasa. Perusahaan harus mampu menciptakan strategi penentuan harga yang tidak hanya memberi keuntungan bagi perusahaan, namun juga memuaskan pelanggannya.

Promosi merupakan aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi / membujuk, dan mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan (Tjiptono, 2005: 132). Beberapa jenis promosi yang sering disebut sebagai bauran promosi menurut Swastha (2009: 238) adalah:
a)      Periklanan;
b)      Promosi penjualan;
c)       Personal selling; dan
d)      Public relation.
Secara lebih sederhana, Shimp (2002: 357-362), menggolongkan tujuan iklan, yaitu :
a)      Informing (memberi informasi);
b)      Persuasioning (mempersuasi/membujuk);
c)       Reminding (mengingatkan);
d)      Adding value (memberi nilai tambah) dan
e)      Assisting (mendampingi) upaya-upaya lain dari perusahaan.

Desain produk adalah masalah desain dari suatu produk telah menjadi salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian serius dari manajemen khususnya team pengembangan produk baru, karena sasaran konsumen yang dituju tidak sedikit yang mulai mempersoalkan masalah desain suatu produk yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen (Angipora ,2002 : 175). Aspek desain dalam kegiatan pemasaran merupakan salah satu pembentuk daya tarik terhadap suatu produk.
Menghadapi perkembangan yang semakin canggih, setiap perusahaan akan semakin bersaing antar satu perusahaan dengan perusahaan lainnya dalam hal inovasi dan pengembangan produk. Hal ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan dan selera konsumen dari tahun ke tahun yang selalu berubah sesuai dengan perkembangan teknologi dan jaman.

2.2 METODE PENELITIAN
Tipe penelitian adalah explanatory (jelas), populasi penelitian seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di Universitas Gunadarma yang menjadi pelanggan Tupperware. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 responden dengan menggunakan Purposive Sampling dengan syarat-syarat sebagai berikut:
a)      Sehat jasmani dan rohani ;
b)      Dapat diwawancarai;
c)       Telah menggunakan Tupperware lebih dari  1 tahun;
d)      Membeli produk Tupperware lebih dari 1 kali dalam 1 tahun terakhir;
e)      Responden merupakan karyawan salah satu fakultas di Universitas Gunadarma.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan teknik Non Probability Sampling dan teknik Purposive Sampling.
Skala pengukuran yang digunakan yaitu skala likert. Teknik pengumpulan data berupa dokumentasi, kuesioner, metode kepustakaan dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. Alat analisis yang digunakan dalam analisis data kuantitatif yaitu uji validitas dan reliabilitas, analisa regresi sederhana, analisa regresi linear berganda, koefisien determinasi dan pengujian hipotesis melalui uji t dan uji F.

2.3 HASIL PENELITIN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka didapatkan hasil penelitian seperti pada table dibawah ini:

Tabel 1
Hasil Penelitian

NO.
UJI HIPOTESIS
t HITUNG/F HITUNG
SIGNIFIKANSI
DETERMINASI
HIPOTESA
1
Pengaruh Kualitas Produk (X1) terhadap Loyalitas (Y)
7,307
0,000
35,3%
Ha Diterima
2
Pengaruh Harga (X2)
terhadap Loyalitas (Y)
16,235
0,000
72,9%
Ha Diterima
3
Pengaruh Promosi (X3)
terhadap Loyalitas (Y)
6,858
0,000
32,4%
Ha Diterima
4
Pengaruh Desain (X4)
terhadap Loyalitas (Y)
4,603
0,000
17,8%
Ha Diterima
5
Pengaruh Kualitas Produk
(X1), Harga (X2), Promosi
(X3) dan Desain (X4)
terhadap Loyalitas (Y)
145,306
0,000
85,4%
Ha Diterima

Berdasarkan hasil penelitian diatas diketahui bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas. Hasil uji determinasi antara kualitas produk terhadap loyalitas sebesar 35,3%, ini berarti 35,3% % variasi atau perubahan yang terjadi pada variabel loyalitas konsumen dipengaruhi oleh kualitas produk.
Harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas. Hasil uji determinasi antara harga terhadap loyalitas sebesar 72,9%, ini berarti 72,9% variasi atau perubahan yang terjadi pada variable loyalitas konsumen dipengaruhi oleh harga.
Promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas. Hasil uji determinasi antara promosi terhadap loyalitas sebesar 32,4%, ini berarti 32,4% variasi atau perubahan yang terjadi pada variabel loyalitas konsumen dipengaruhi oleh promosi.
Desain berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas. Hasil uji determinasi antara desain terhadap loyalitas sebesar 17,8%, ini berarti 17,8% variasi atau perubahan yang terjadi pada variabel
loyalitas konsumen dipengaruhi oleh desain.
Kualitas produk, harga, promosi dan desain berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas. Hasil uji determinasi antara kualitas produk, harga, promosi dan desain terhadap loyalitas sebesar 85,4%, ini berarti 85,4% variasi atau perubahan yang terjadi pada variabel loyalitas konsumen dipengaruhi oleh kualitas produk, harga, promosi dan desain.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dinyatakan bahwa variabel kualitas produk, harga, promosi dan desain berpengaruh terhadap loyalitas. Loyalitas pelanggan merupakan suatu ukuran keterikatan konsumen terhadap sebuah merek. Secara umum dikatakan bahwa konsumen puas dengan keseluruhan kinerja atas produk atau jasa yang didapatkan.
Konsumen akan memilih produk dengan kualitas produk yang baik. Dalam penelitian ini konsumen yang menilai bahwa produk Tupperware memiliki kualitas produk yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Dari penelitian ini diketahui bahwa kualitas dari produk Tupperware telah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh konsumen meluputi kegunaan, kesesuaian produk, daya tahan, keawetan dan keistimewaan tambahan yang dimiliki oleh produk Tupperware.
Konsumen akan membandingkan kualitas produk dengan produk lain sehingga konsumen dapat menentukan produk yang dipilih untuk jangka waktu yang lama.
Kemudian penilaian yang baik mengenai produk yang sesuai dengan tingkat baik atau tidaknya kualitas produk yang diberikan dengan kesesuaian harga mendorong pelanggan untuk setia terhadap produk tersebut. Harga yang wajar akan menjadi keputusan bagi konsumen untuk tetap setia pada produk tersebut. Hasil ini mendapatkan bahwa dalam banyak hal karakteristrik, harga produk Tupperware sudah sesuai dengan kriteria sebagaimana yang diharapkan oleh konsumen, dimana dalam hal ini konsumen atau calon konsumen akan mengharapkan harga produk yang sesuai dengan keistimewaan produk yang ada, harga yang relatif terjangkau dan harga yang sudah sesuai dengan manfaat produk.

Promosi menurut Kotler (2000: 355) merupakan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan manfaat dari produknya dan untuk meyakinkan konsumen sasaran (target consumers) agar membelinya. Iklan yang memiliki daya tarik tinggi akan meningkatkan kesadaran merek, mendorong pencobaan terhadap merek, dan menekankan pembelian ulang. daya tarik iklan yang tinggi akan memunculkan memori yang kuat dibenak konsumen yang nantinya mendorong munculnya perilaku pembelian ulang di masa depan. Pembelian ulang tersebut merupakan indikator dari munculnya loyalitas konsumen yang tinggi. Semakin tinggi daya tarik dari promosi maka semakin tinggi munculnya loyalitas konsumen.
Konsumen dalam mencari atau memilih produk akan mempertimbangkan faktor desain produk tersebut, Tupperware dinilai oleh konsumen memiliki desain yang menarik, bervariatif dengan konsep yang tidak terlihat ketinggalan zaman. Selanjutnya dari kondisi tersebut diperoleh adanya loyalitas pelanggan yang semakin tinggi yang dapat dilakukan oleh konsumen.



BAB III
PENUTUPAN

3.1 KESIMPULAN
Faktor yang paling berpengaruh adalah harga, sebesar 72,9% variasi atau perubahan yang terjadi pada variabel loyalitas konsumen dipengaruhi oleh harga, sisanya yaitu sebesar 27,1% perubahan yang terjadi pada variabel loyalitas konsumen dipengaruhi oleh variabel di luar harga. Harga produk Tupperware adalah sangat tinggi. Dengan harga yang sangat tinggi tersebut konsumen mendapatkan kualitas yang baik dan manfaat dari produk Tupperware seperti yang mereka harapkan.
Yang kedua adalah kualitas produk, sebesar 35,3% variasi atau perubahan yang terjadi pada variabel loyalitas konsumen dipengaruhi oleh kualitas produk, sisanya sebanyak 64,7% perubahan yang terjadi pada variabel loyalitas konsumen dipengaruhi oleh variabel di luar kualitas produkKualitas produk Tupperware adalah sangat baik. Hal ini dikarenakan produk Tupperware dapat menjalankan fungsinya untuk kegiatan sehari-hari, produk yang diberikan sesuai dengan spesifikasi yang ditawarkan, memiliki keawetan dan daya tahan yang bagus serta memiliki sangat banyak keistimewaan.
Yang ketiga adalah promosi, sebesar 32,4% variasi atau perubahan yang terjadi pada variable loyalitas konsumen dipengaruhi oleh promosi, sisanya sebesar 67,6% perubahan yang terjadi pada variabel loyalitas konsumen dipengaruhi oleh variabel di luar promosi. Promosi yang disampaikan oleh Tupperware tergolong baik. Media promosi yang digunakan oleh Tupperware bervariasi dan memiliki daya tarik promosi yang menarik. Pesan yang disampaikan jelas dan lengkap serta frekuensi kegiatan promosi yang dilakukan juga sering.
Yang terakhir adalah desain, Sebesar 17,8% variasi atau perubahan yang terjadi pada variable loyalitas konsumen dipengaruhi oleh desain, sisanya sebesar 82,2% perubahan yang terjadi pada variable loyalitas konsumen dipengaruhi oleh variabel di luar desain. Desain dari produk Tupperware adalah bagus. Bentuk dan warna dari produk Tupperware dapat dikatakan menarik. Desain grafis yang ditawarkan juga menarik perhatian. Sehingga dapat dikatakan penampilan keseluruhan produk Tupperware menarik.
Nilai korelasi antara variabel kualitas produk (X1), harga (X2), promosi (X3) dan desain (X4) terhadap variabel loyalitas konsumen (Y) yaitu sebesar 0,927 yang termasuk kategori korelasi sangat kuat. Jadi dapat dinyatakan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel kualitas produk (X1), harga (X2), promosi (X3) dan desain (X4) secara bersama-sama terhadap variable loyalitas konsumen (Y). Sebesar 85,4% variasi atau perubahan yang terjadi pada variabel loyalitas konsumen dipengaruhi oleh kualitas produk, harga, promosi dan desain. Loyalitas konsumen Tupperware adalah sangat tinggi. Konsumen sangat sering melakukan pembelian berulang dan mereka memiliki kemauan untuk merekomendasikan produk Tupperware kepada orang lain. Konsumen juga sangat tidak ingin berpindah kepada produk lain yang sejenis.

3.2 SARAN
Kualitas produk yang dimiliki oleh Tupperware sudah sangat baik. Oleh karena itu kualitas dari produk hendaklah dipertahankan agar konsumen terus loyal terhadap produk Tupperware dan tidak berpindah pada produk lain yang sejenis karena saat ini banyak bermunculan produk-produk plastic yang menyerupai Tupperware.
Harga dari produk Tupperware yang sangat tinggi, bagi konsumen kelas menengah ke bawah dirasakan tidak terjangkau sehingga mereka harus mencicil apabila ingin membeli. Hendaknya Tupperware dapat sedikit menurunkan harga produk agar konsumen kelas menengah ke bawah dapat juga menggunakan produk Tupperware dan merasakan keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh produk Tupperware.
Promosi yang dilakukan oleh Tupperware jarang diketahui oleh masyarakat. Hendaknya Tupperware lebih gencar lagi dalam melakukan promosi agar Tupperware lebih dikenal oleh masyarakat banyak karena masih banyak yang mengenal Tupperware hanya sebagai barang plastic biasa yang memiliki harga yang mahal. Mereka kurang mendapatkan informasi mengenai Tupperware dan kelebihannya.
Desain yang dimiliki oleh produk Tupperware khususnya desain grafis untuk kid’s collection hendaknya lebih beragam lagi karena anak-anak menyukai hal-hal atau gambar yang ceria dan lucu.






















DAFTAR PUSTAKA
Dharmmesta, Basu Swastha. 1999. Loyalitas Pelanggan:Sebuah Kajian Konseptual Sebagai Panduan Bagi Peneliti. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia vol.14 no.3 1999.

Griffin, Jill. 2002. Costumer Loyalty. Jakarta: Erlangga.

Kertajaya, Hermawan. 2002. Marketing Plus 2000. Jakarta: Gramedia.

Kotler, Philip dan Gary Amstrong. 2000. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Jakarta: Erlangga.

Marius P. Angipora. 2002. Dasar-Dasar Pemasaran, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Swastha, Basu. 2009. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Tjiptono, Fandy. 2005. Strategi Pemasaran. Yogyakarta : ANDI.

Umar Husein. 2000. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.


SUMBER : Google